Kehidupan Paripurna

Dalam adat istiadat dan tradisi Jawa, banyak filosofi dan pelajaran hidup yang disampaikan melalui lambang-lambang. Di antaranya adalah yang diajarkan kepada seseorang yang menginginkan sebuah kehidupan paripurna. Untuk mendapatkan ini konon ia harus memiliki atau memenuhi lima hal sebagai berikut:

1. Wisma (Rumah)
Penafsiran tentang rumah ini boleh jadi agak kompleks, namun dua unsur terpenting yang dilambangkan dengan rumah adalah sebagai tempat kembali, baik dalam arti harfiah di mana manusia perlu tempat untuk pulang, maupun sebagai peringatan bahwa suatu saat nanti manusia pasti akan kembali ke asalnya yakni menghadap sang Pencipta. Ungkapan orang Jawa tentang hidup ini sangat sederhana; "Wong urip kui gur mampir ngombe." atau manusia hidup itu cuma singgah untuk minum saja. Ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan manusia pada hakekatnya sangat singkat dan kita harus selalu mengingatnya.

Rumah juga berarti keluarga, tempat berkumpulnya pasangan suami istri dan anak-anak yang saling menyayangi dan melindungi. Ini lambang tentang
cinta kasih dan kelembutan. Dari rumah inilah manusia belajar untuk selalu mengasihi orang lain dan menghindari nafsu angkara murka terhadap sesama.

2. Peksi (Burung)
Rata-rata orang Jawa jaman dahulu memelihara burung (dalam arti sesungguhnya), dan biasanya burung perkutut. Mereka memelihara perkutut karena burung ini terkenal memiliki suara yang merdu. Dengan demikian, sebagai makhluk sosial sang pemilik juga diharapkan memiliki suara yang bagus, dalam artian bila berbicara selalu memperhatikan kaidah dan tata krama, menghindari diri dari berbicara dengan nada sumbang apalagi sombong, serta terus menerus belajar untuk dapat bertutur dengan lemah lembut sehingga terdengar merdu di telinga. Burung juga lambang media rekreasi yang dapat membantu seseorang menikmati waktu luang dan mencapai perasaan rileks. Jadi, adalah keliru anggapan sebagian orang saat ini yang memelihara burung perkutut dengan harapan kehidupan mereka akan menjadi lebih baik.

3. Turangga (Kuda)
Selain sebagai sarana transportasi, kuda juga merupakan lambang atas kemampuan seseorang dalam mengendalikan sesuatu di luar dirinya. Kita semua mengetahui bahwa menunggang kuda adalah tindakan yang membutuhkan keahlian khusus, terutama dalam menguasai tali kendali. Kemampuan ini akan membiasakan seseorang untuk setiap saat mampu menguasai diri sendiri dan mengendalikan hawa nafsu yang menggoda dirinya.

4. Al Quran (Agama)
Agama adalah system, atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan atau (dahulu) disebut juga Dewa atau nama-nama lainnya. Agama berhubungan dengan ajaran pengabdian dan kewajiban-kewajiban manusia yang bertalian dengan kepercayaannya kepada Tuhan. Kata lain untuk menggambarkan konsep ini adalah religi yang berarti bahwa seseorang mengikatkan dirinya kepada Tuhan. Melalui ikatan inilah kemudian ia mendapatkan kesempatan untuk belajar menjadi pribadi paripurna sesuai dengan ajaran agama.

5. Keris (Perisai diri)
Rata-rata orang Jawa jaman dahulu memiliki keris yang digunakan sebagai senjata untuk mempertahankan diri. Tetapi bukan berarti bahwa untuk menjadi paripurna seseorang harus selalu memiliki senjata. Keris di sini melambangkan kemampuan seseorang untuk menjaga dan melindungi diri dan keluarganya dari segala anasir jahat yang dapat mengganggu ketenangan hidupnya. Ini lambang tentang kepribadian yang kuat, baik lahir maupun bathin.



Wasiat Mbah Oko

Samar-samar saya masih ingat almarhum Bapak saya pernah bercerita bahwa di saat-saat terakhir sebelum wafat, ayahnya, atau kakek kami mbah Oko, masih sempat wanti-wanti berpesan kepada semua anak-anaknya bahwa beliau tidak menginginkan siapapun dari keturunannya yang sampai terlibat MOLIMO.

Almarhum Bapak mengatakan bahwa larangan itu menyerupai sumpah, dan kakek memperingatkan bahwa siapapun anak, cucu, dan cicitnya yang melanggar ini akan hidup sengsara sampai tujuh turunan!

Lalu, apakah MOLIMO itu?

Di kalangan masyarakat Jawa kata Molimo atau Lima M bukanlah hal yang asing. MOLIMO adalah adab yang dipegang teguh secara turun temurun, yang pada hakekatnya memang sangat sesuai dengan ajaran islam. Adab tersebut mengajarkan agar dalam hidupnya manusia selalu berusaha untuk mejauhi MOLIMO. Walaupun pada kenyataannya tidak sedikit yang diam-diam atau bahkan terang-terangan menjalani salahsatu atau kelimanya!

Lima "M" itu dalam bahasa Jawa terdiri dari:
  • MAEN ~ berjudi, perjudian.
  • MADON ~ prostitusi.
  • MALING ~ mencuri, korupsi, dll.
  • MADAT ~ candu, narkoba.
  • MINUM ~ minuman keras, mabuk.

Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa mereka yang besentuhan atau menjalani salahsatu saja dari MOLIMO ini pada akhirnya akan mengalami penderitaan, baik lahir maupun bathin. Sedangkan sebaliknya, mereka yang mampu menghindari molimo akan mendapatkan hati, rohani, dan jiwa yang bersih serta fisik yang sehat. Jauh dari segala gangguan berbagai jenis penyakit dan Insya Allah, secara keseluruhan kehidupan keluarganya senantiasa tentram dan damai.

Jika diperhatikan, sesungguhnya MOLIMO adalah bentuk logis dari azas "sebab-akibat" yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan untuk itu rasanya tidak perlu panjang-panjang, karena secara alamiah memang begitulah adanya. Tapi dalam kaitannya dengan sumpah almarhum kakek, sejak kecil diam-diam saya juga memperhatikan bahwa memang benar terbukti bahwa ada di antara keturunan kakek yang terpaksa harus menjalani kehidupan tidak menyenangkan sebagai akibat dari keterlibatannya dengan salahsatu dari MOLIMO ini.

Kendati begitu, tulisan ini tidak saya maksudkan untuk mencampuri, apalagi menggurui siapapun dalam lingkungan keluarga besar kita. Tulisan ini saya sampaikan semata-mata demi menuruti anjuran Pak Long Mohammad Husaini agar kita berbagi serba sedikit pengetahuan yang berasal dari adat Jawa yang menjadi akar budaya asli Keluarga Besar Bani haji Rais.

Semoga bermanfaat!



Kenangan Bersama "Wak Thahar"

Gambar kenangan bersama Allahyarham semasa beliau dan Tok Mardiyah mengunjungi rumah kami di Perumahan Awam Batu 4, Kamunting, Taiping pada tahun 1979. Itu pertama kali baru saya (kiri sekali) tahu ada saudara-mara di Indonesia. Masa itu saya balik bercuti musim panas antara bulan Jun hingga Ogos 1979. Tak tahu nama dan kaitan mereka. Sehingga lah kunjungan saya ke Jakarta dan akhirnya ketemu juga beliau pada 2 Ogos 2008. Iaitu hampir 28 tahun niat hendak bertemu beliau terkabul. Syukur alhamdullillah.

Gambar tersebut dirakam menggunakan kamera pertama yang saya beli di England. Walaupun gambarnya tak berapa jelas,kamera murah,tapi yang penting detik kehadiran mereka itu amat berharga bagi saya.

Dari: H. Zulkifli Zahari - Foto daripada 29 tahun lalu.

Pamanda HM Thahar Mas

Oleh: Muhammad "Hariswan" Syahruddin
Pamanda kami tercinta, HM Thahar Mas Bin Mas Muhammad, telah berpulang ke rakhmatullah pada hb 03 September 2008 yang baru lalu, setelah mengarungi perjalanan panjang kehidupannya di alam fana ini selama kurang lebih 89 tahun. Dengan kepergian beliau, maka para sesepuh kita dari garis keturunan
eyang putri kami “Hajjah Marliyah” yang berjumlah 7 orang bersaudara sekandung yang dalam hierarchi keluarga merupakan generasi ke 4 daripada keturunan HAJI RAIS, kini seluruhnya telah tiada.

Ayahanda kami, allahyarham Syahruddin Bin Mas Muhammad (1917-1971) yang merupakan putra tertua dari tujuh bersaudara (Pa’ Long), yang oleh adik-adiknya dipanggil dengan panggilan mesra “Kang Mas Sahar” dari semenjak remaja mempunyai hubungan yang sangat istimewa dengan adindanya HM Thahar. Menurutkan cerita pamanda kami yang lain (Mashuri Minhad), Konon di mana ada “Kangmas Sahar”, di sana pasti ada “Mas Thahar”. Maklum usia beliau berdua hanya terpaut lebih kurang dua tahun sahaja.

Salah satu tradisi baik yang diajarkan oleh ayahanda kami adalah mengekalkan tali silaturahim dengan cara saling berkunjung ke rumah para paman dan bibi/ma’cik kami yang lain. Setiap kali beliau mempunyai waktu luang atau cuti, maka secara bergiliran selalulah kami diajak berkunjung ke rumah salah satu daripada adik-adiknya yang ada di kota lain. Namun entah mengapa..., sepanjang yang kami ingat, intensitas kunjung-mengunjungi ke tempat tinggal pamanda kami HM Thahar jauh lebih sering dibandingkan ke rumah adik-adik beliau yang lain. Saking seringnya kami dulu berkunjung ke rumah paman HM Thahar di jalan Beruang-Medan Sumatra Utara, maka hubungan kami dengan seluruh putra-putri belia benar-benar mesra tak ubahnya saudara sekandung dan meskipun kami dan para sepupu putra putri paman HM Thahar saat ini tinggal berjauhan tempat namun hubungan itu masih terus berlanjut hingga saat ini dan insya Allah akan terus berkekalan sampai akhir hayat dikandung badan.

Pamanda kami HM Thahar Mas adalah figur seorang ayah yang sholeh, taqwa, qanaah dan wara’.

Beliau senantiasa menanamkan nilai-nilai pendidikan agama dan moral kepada para putra putrinya. Hampir sepanjang hidupnya beliau abdikan untuk memakmurkan mesjid serta melakukan amal sholeh semata-mata mengharapkan ridhla Allah SWT.

Beliau memperlakukan kami para kemenakannya tak ubahnya seperti anak sendiri sehingga dengan “kepergian” beliau kami benar-benar merasa sangat kehilangan! Bagi kami semua, pamanda HM Thahar bukan hanya sekedar paman tapi sejak ayahanda kami wafat lebih dari 37 tahun lalu beliau benar-benar kami anggap sebagai pengganti ayahanda kami. Setiap kali salah satu anggota keluarga membutuhkan kehadiran seorang wali, maka beliau akan selalu berusaha hadir untuk kami semua. Bahkan sampai di hari-hari menjelang kepergiannyapun, beliau masih mengusahakan untuk dapat berada di tengah-tengah kami meskipun kesehatannya sendiri sudah mulai agak terganggu. Pendek kata, setiap kali kami membutuhkan kehadirannya, sepanjang itu memungkinkan, hampir dapat dipasitkan beliau akan selalu ada!

Pesan beliau yang senantiasa diulang-ulang kepada kami para anak cucu dan kemenakannya bahkan hingga saat menjelang kepergiannya adalah “Jangan pernah meninggalkan shalat”!

Khusus kepada saya, beliau berwasiat: “setiap kali nanda ber-istighfar, jangan lupa untuk memohonkan ampunan bagi kedua orangtuamu maka beristighfarlah dengan membaca- Astaghfirullahal azhiim li waliwali dayya wa atuubu ilaiih..., sehingga setiap kali nanda memohon ampunan Allah, maka pada saat bersamaan dosa kedua orangtuamu insya Allah juga akan di ampuniNYA, karena do’a anak yang sholeh untuk kedua orangtuanya pasti akan di-ijabah oleh Allah SWT.”

“Selamat jalan” wahai pamanda terkasih kami semua, dan meskipun pada zahirnya saat ini pamanda tak lagi duduk bercengkrama bersama kami semua, namun didalam hati sanubari kami yang terdalam, pamanda akan selalu ada”.

Allahummaghfirlie zunubi waliwali daina warhamhuma kama robbayani syaghiraa....

Allahuma Yaa Allah yaa Arhamaarrahimiin, sayangilah pamanda kami sebagaimana beliau menyayangi kami sekalian. Lapangkanlah quburnya..., dan tempatkanlah beliau kelak di maqam tertinggi di syurga Adn bersama-sama para aulia, syuhada dan para kekasihMU sekalian.....

Allahumma yaa Allah yaa Ghafurrurahiim, ampunilah segala dosa yang mungkin tiada sengaja pernah beliau lakukan semasa hidupnya dan hapuskanlah seluruh catatan dosanya serta gantilah semuanya menjadi catatan amal kebaikan semata dan taqdirkanlah agar kelak di yaumil akhir..., beliau akan menerima buku catatan amalnya dengan tangan kanan!.

Allahuma yaa Allah yaa Mujibassa’iliin, kabulkan doa kami ini!

Amin yaa Rabbul ‘alamiin.....