Februari 16, 2011
Oktober 14, 2010
FALSAFAH HIDUP JAWA
Falsafah Ajaran Hidup Jawa memiliki tiga aras dasar utama, yaitu: aras sadar ber-Tuhan, aras kesadaran semesta dan aras keberadaban manusia. Aras keberadaban manusia implementasinya dalam ujud budi pekerti luhur. Maka di dalam Falsafah Ajaran Hidup Jawa ada ajaran keutamaan hidup yang diistilahkan dalam bahasa Jawa sebagai piwulang (wewarah) kautaman.Juni 23, 2010
BAHASA JAWA
Bahasa Jawa merupakan bahasa sehari-hari sebagian besar Orang Jawa. Bahasa Jawa digunakan oleh penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten terutama kota Serang, kabupaten Serang, kota Cilegon dan kabupaten Tangerang, Jawa Barat khususnya kawasan Pantai utara terbentang dari pesisir utara Karawang, Subang, Indramayu, kota Cirebon dan kabupaten Cirebon, Yogyakarta, Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia.Juni 22, 2010
NEGARA DALAM PERKEBUNAN
Di situ diisyaratkan: yang sudah mengikat dirinya sebagai kuli kontrak diharuskan bekerja tiga tahun. Dan tanpa jaminan, setelah habis masa kontrak, mereka akan dikembalikan ke tempat asalnya. "Dulu politik Belanda mendatangkan kuli-kuli dari Jawa itu seperti transmigrasi terselubung," kata Tengku Luckman Sinar, S.H., 55 tahun. Seingat anak Sultan Serdang yang mengajar sejarah di Fakultas Sastra USU Medan ini, dengan menggaji kuli-kuli itu kecil, pengusaha perkebunan mengait keuntungan besar. Kemudian, untuk menekan biaya, mereka juga menyelenggarakan perjudian. "Karena kuli-kuli sudah kehabisan uang, kalah main judi, lalu mereka teken kontrak lagi. Ikatan ini tentu membuat para kuli tidak pernah membayangkan lagi kapan harus pulang ke kampungnya di Pulau Jawa.
November 21, 2009
KEHIDUPAN PARIPURNA
Dalam adat istiadat dan tradisi Jawa, banyak filosofi dan pelajaran hidup yang disampaikan melalui lambang-lambang. Di antaranya adalah yang diajarkan kepada seseorang yang menginginkan sebuah kehidupan paripurna. Untuk mendapatkan ini konon ia harus memiliki atau memenuhi lima hal sebagai berikut:1. Wisma (Rumah)
Penafsiran tentang rumah ini boleh jadi agak kompleks, namun dua unsur terpenting yang dilambangkan dengan rumah adalah sebagai tempat kembali, baik dalam arti harfiah di mana manusia perlu tempat untuk pulang, maupun sebagai peringatan bahwa suatu saat nanti manusia pasti akan kembali ke asalnya yakni menghadap sang Pencipta. Ungkapan orang Jawa tentang hidup ini sangat sederhana; "Wong urip kui gur mampir ngombe." atau manusia hidup itu cuma singgah untuk minum. Ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan manusia pada hakekatnya sangat singkat dan kita harus selalu mengingatnya.
Langgan:
Entri (Atom)


